Wakatobi, Takkan Terlupakan (Part 1): Serunya Kapal Rakyat

4
1535
Wakatobi sebuah singkatan dari Wanci Kalidupa Tomia Binongko, itupun aku tahu dari temen seperjalanan ketika sudah berada di dalam mobil, terus terang perjalanan kali ini buat aku sedikit “blank” dan pasrah saja dengan itenarary yang ada tetapi persiapan sesuai yang disampaikan oleh penyelenggara trip.
Praktis malam ini aku nggak tidur, karena takut “bablas” hehe…itu bahasa jawa yang sudah diindonesiakan kali ya. Pesawat jam 05.00 pagi menuju Makasar adalah yang sudah dijadwalkan, perjalanan sekitar 3 jam aku manfaatkan buat molor.

Bandara Sultan Hasanuddin

Sampai di Bandara Sultan Hasanuddin perut udah mulai terasa lapar, dan kebetulan waktu masih memungkinkan sebelum perjalanan lanjutan ke Bau Bau. Pesawat lanjutan pukul 11.50, hanya sekitar 1 jam sudah sampai di Bandara BetoAmbari, sebuah bandara kecil tetapi cukup ramai. Proses bagasi tidak terlalu lama, sementara sambil menunggu Mas Arie (guide dan teman perjalanan juga) mencari mobil yang sudah disewa untuk explore tempat wisata di kota ini.

Bandara BetoAmbari

Rasanya baru aja duduk di dalam mobil dan merasakan dingin nya AC, eh…tahu tahu mobil sudah berhenti di parkiran berpasir, ternyata aku sudah sampai di sebuah pantai yang boleh dibilang indah banget Guys. Pantai Nirwana kata Pak Martin, driver yang bakal menemani perjalanan seharian nanti.
Sebuah pantai berpasir putih, dengan tekstur sangat lembut terhampar luas, gradasi warna air laut terlihat jelas perubahan dari pola warna birunya. Siang itu sangat lengang, sehingga bisa puas menikmati keindahan pantai ini. Deburan ombak dan suara angin yang terdengar menerpa dedaunan pohon kelapa menambah suasana hangat sambil duduk di pondokan kayu yang berjajar di pinggiran.

Indahnya Pantai Nirwana

Puas mengambil beberapa foto, aku diajak pindah ke bagian lain untuk melihat dari sisi lain moleknya pantai nirwana. Menuju ke dataran yang lebih tinggi sehingga hamparan lautan biru semakin terlihat bagus, dan di lokasi ini ada beberapa kamar berbentuk cottage disewakan. Panas terik justru memberikan kilauan pada air yang bening, ditambah langit yang bersahabat siang ini, terasa sempurna.

Pantai Nirwana


Yuk…lanjutin perjalanan, masih ada beberapa destinasi yang bisa diexplore…kok malah kebawa tulisan aku yang melow karena ngelihat pemandangan tadi hehe…nanti malah pada ngira bukan aku yang nulis. Mobil melewati jalanan mulus menuju salah satu tujuan wisata yang memang jadi salah satu andalan kota ini, tapi sebelum sampai tujuan aku berhenti di sebuah bukit dimana terdapat patung yang berbentuk ekor naga berwarna hijau, nama daerahnya Palagimata, dari sini terlihat panorama kota dan teluk Bau Bau, dan ternyata patung ini juga mempunyai kepala yang berada di Pantai Kamali, sayang nya karena waktu yang tidak memungkinkan aku tidak bisa melihat langsung bentuk kepala naganya. Konon menurut cerita, patung ini melambangkan kedekatan antara bangsa Cina dengan Kerajaan Buton, serta merupakan simbol kekuasaan.

Ekor Naga


Oiya sehubungan dengan kata kerajaan, akhirnya nyambung juga ke lokasi wisata yang berikutnya, yaitu Benteng Keraton, merupakan obyek wisata bersejarah bekas Ibukota Kerajaan Buton dimana bangunan unik yang terbuat dari batu kapur/gunung. Yang bikin aku berdecak kagum adalah: benteng ini tercatat sebagai benteng terluas di dunia dengan ukuran luas 23.375 hektar…Wow amazing khan Guys, ayo supaya meyakinkan kalian sambil manggut manggut githu bacanya hehe…Sayang nya lagi aku nggak mungkin mengelilingi seluruh bagian dari benteng ini, karena bisa dibayangin khan luas area segithu kalau jalan kaki muter aja bisa bisa kayak ikutan lomba lari berapa kilometer githu. Ditambah lagi panggilan alam sudah memanggil, perut mulai memainkan musik keroncong, para pemain didalam nya sudah heboh, jadi segera mengisi bensin untuk badan dulu di sebuah Rumah Makan Panca Rasa, sebuah tempat makan yang meyediakan menu masakan jawa, seperti nasi campur dan nasi kuning.

Benteng Keraton

Selesai makan siang, mampir ke hotel sejenak untuk berganti busana…tp bukan fashion show lho ya, justru ini disarankan untuk siap berbasah ria dan rada kotor…oalah ini trip apa opsek ya Guys…tenang tenang aku mau diajakin ke Goa Lakasa. Sekilas cerita mengenai goa ini, namanya berasal dari nama penemunya, konon saat berjalan di perkebunan, ybs menemukan sebuah dinding batu, ketika berusaha memecahkan dengan linggis, justru yang ditemukan adalah lobang besar masuk ke dalam, nah ini yang nantinya akan aku coba masuk. Lokasinya hanya 7 km dari pusat kota, tepatnya di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari. Ketika aku sampai di mulut goa, sudah diberi tahu bahwa di dalam nanti penerangan sangat minim karena hanya bergantung pada lampu senter yang kita bawa walaupun sebenarnya sudah terpasang lampu lampu, tetapi karena minim nya perawatan sehingga justru aliran listrik nya tidak ada, dan kenyataan yang ada aku sudah seperti Pak Kasa saat menemukan goa  hehe…jalanan menurun sedikit licin karena didalam nya terdapat stalaktit dan stalakmit yang kadang ada tetesan air yang jatuh dari atas dinding goa, ditambah lagi harus mencari pijakan kaki supaya tidak tergelincir. Satu alasan masuk ke mulut bumi di dalam goa ini adalah untuk melihat keindahan yang memang tiada tara, dan benar juga setelah menempuh waktu sekitar 25 menit, aku melihat kubangan air seperti telaga tepat di dasar nya dan pantulan cahaya dari batu kristal disekelilingnya saat lampu senter diarahkan. Sekali lagi kata “amazing” buat pemandangan alam yang terlihat, air yang menggenang saat itu di atas pinggang aku, aku cicipin dan rasanya tawar, segar banget karena dingin dan bersih sekali. Dinding bebatuan nya benar benar menyerupai kristal, karena aku pegang terasa kasar, tidak mulus seperti layak batu lain nya. Saking enaknya berendam sampai sedikit lupa waktu dan bakal balik harus menanjak ke atas, lawan dari masuk nya tadi hehe…

Goa Lakasa

Hari menjelang sore ketika aku sampai di atas lagi, karena sudah mendekati dengan sunset, jadi dengan kondisi baju basah perjalanan dilanjutkan ke sebuah bukit yang dinamakan Kolemo , hampir sama dengan saat berada di Palagimata kita bisa melihat landscape Kota Bau Bau, tetapi yang menjadi perbedaan nya, di sini kita bisa mengambil gambar dengan background rangkaian huruf nama kota ini dengan ukuran sangat besar.


Senja mulai menyeruak, saat nya bergegas untuk menyaksikan indah nya sunset, kota Bau Bau menyediakan tempatnya juga, yaitu di Pelataran Wantiro. Merupakan pelataran yang menyajikan pemandangan teluk Bau Bau dengan sesekali melihat perahu nelayan lalu lalang dan matahari yang mau kembali ke peraduan. Sambil duduk di kursi plastik yang telah disediakan oleh pemilik warung yang ada di sana, menjual penganan kecil seperti pisang, ubi dan ketela goreng serta minuman seperti teh, kopi dan “saraba” yang merupakan minuman khas Makasar yang biasanya disajikan panas atau hangat dengan campuran jahe, gula aren, susu milk dicampur dengan air. Mau tahu rasanya, bisa praktek di rumah sendiri atau percaya ama aku hehe…yang pasti sedikit pedas tetapi hangat di badan, atau mungkin coba minum tolak angin….kidding. Mendingan kalau ada kesempatan cobain aslinya dan di daerah asalnya ya.

Sunset di Wantiro


Sunset yang sempurna bisa aku nikmati di sini, untungnya setelah selesai semua nya baru mendapat khabar yang sedikit membuat hati gundah gulana…tapi nggak perlu di “goyang dumang” ya hehe… karena adanya badai, kapal rakyat yang harus nya nanti malam ditumpangi dari Bau Bau ke Tomia dibatalkan keberangkatan nya, kali ini jelas jelas karena alasan cuaca, beda kalau kita naik pesawat selalu alasan nya karena operasional hehe…walah balik ke topik kok malah ngelantur. Setelah melalui proses harap harap cemas, untung saja masih ada solusi yang cukup baik meskipun setelah mendengar solusinya, aku langsung sedikit keliyengan…hehe nggak juga sih Guys, aku githu lho yang ngakunya adventure sejati tak pantang menyerah. Jadi solusi bocoran nya adalah sbb: rute kapal rakyat dari Bau Bau ke Wanci terlebih dahulu, baru besok pagi ngejar ferry rute Wanci ke Tomia, jarak waktu yang seharusnya 10 – 12 jam menjadi estimasi total 14 – 16 jam.
Ya sudahlah, ambil positif nya saja daripada harus menginap di Bau Bau malah lebih buang waktu lagi, balik ke hotel untuk mandi dan berkemas untuk menikmati “serunya kapal rakyat”

Tepat pukul 21.00, aku sudah berada di dalam kapal yang disebut kapal rakyat, penasaran pastinya akan kondisi sebenarnya seperti apa, akupun juga demikian hehe…ternyata ini adalah kapal kayu tapi jangan dibayangkan seperti kapal pinisi. Pintu masuk di kiri kanan bagian depan kapal dan begithu masuk ke dalam bisa tinggal lurus atau turun melalui tangga ke arah bawah, di bagian bawah terdapat barak tempat tidur yang separonya juga merupakan tempat mesin kapal (yang nggak terbayang seandainya aku mendapat tempat di sini, yg pasti panas dan bau bahan bakar lebih memabukkan), sedangkan untuk bagian atas terbagi menjadi 2 tingkat yang hanya memungkinkan kita duduk jika sudah pada posisi di atas matras plastik yang siap “bergumul” dengan kita sepanjang malam hehe…wadow jadi hot begini ceritanya. Untungnya juga aku masih mendapat kan posisi yang dibagian barak paling atas. Setidaknya bisa mendapat angin yang langsung dari jendela kapal dan ventilasi alam nya cukup luas. Kapal rakyat malam ini nggak bedanya dengan pesawat, pake acara delay dan tepat pukul 23.00 baru bergerak alias mulai berjalan. Aku tidak langsung masuk ke dalam melainkan duduk di depan “dak” kapal sambil melihat bintang bertaburan di atas langit yang memang malam itu cukup cerah, hampir sejam lebih berada di luar dan yang ada mulai terasa angin laut makin kencang dan ombak lautan menggoyang kapal rakyat, bergegas aku masuk dan mengambil posisi tidur, rasa kantuk sekilas bisa mengalahkan goyangan ombak yang semakin dahsyat, dan ini menjadi sebuah perjalanan yang akan menjadi memori tersendiri sampai aku pun terlelap…

Kondisi Kapal Rakyat

SHARE
Previous articleMonarchy
Next articleMOR memang BEDA
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan selalu memberikan makna yang mendalam. Percaya atau tidak, datang ke destinasi yang sama sekalipun, kalian akan selalu mendapatkan cerita yang berbeda. Jadi jangan pernah merasa bosan untuk melakukan perjalanan, terus melangkah dan bagikan pengalaman kalian kepada orang lain, layak nya aku seorang KoperTraveler

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here