Baturaden

2
793
hai hai…yuk jalan jalan lagi, kali ini nggak jauh2, lokasi nya ada di pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah, lebih tepat lagi di Purwokerto, dan nama tempat wisatanya Baturaden, sebelum lihat ada apa aja di sana, lebih baik aku sekedar cerita mengenai arti kata nya. Kalau yang dari pulau Jawa alias ngerti boso jowo, so pasti kudu ngerti opo artine Batur lan Raden…upsssss sorry sorry jadinya kok aku malah kebawa masa kecil saat tinggal di kampung hehe…gampang nya gini Batur itu sama dengan Pembantu, sedangkan Raden adalah orang Bangsawan, sehingga menurut legenda ada putri dari sebuah kerajaan yang berpacaran dengan pembantu nya, sehingga diusir dan menemukan tempat yang nyaman dan sejuk untuk tinggal sampai akhir hayat nya.
Tapi aku rasa nggak usah lama lama ya aku mendongeng, bisa bisa nanti berlanjut seperti dongeng si Kancil atau apalah yang sering kita dengar saat kita masih kecil.
Okay, sekarang masuk ke intinya, kalau kamu dari Jakarta atau Surabaya misalnya, naik kereta api aja untuk menuju ke kota Purwokerto, karena belum ada atau dibangun bandara. Dari kota ini menuju ke kawasan wisata Baturaden hanya sekitar paling lama 45 menit, dan hawa di area ini cukup sejuk dan enak pokok nya buat santai meskipun bukan di pantai. Oiya saran aku lagi, sebaik nya menginap satu malam di wisma wisma atau penginapan yang tersebar banyak di beberapa sudut lokasi wisata, dan harganya dijamin tidak mahal.
Sekarang udah pada siap masuk tempat wisata nya khan, intermezzo nya sudah cukup panjang dan kita sudah sampai tujuan nih
Nah ini Lokawisata Baturaden yang aku ceritakan, sekilas pasti semua berpikir ini taman wisata rakyat, benar adanya. Berada tepat di kaki gunung Slamet, yang mana merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah, sehingga kawasan ini cukup sejuk dan cenderung dingin di malam hari. Untuk masuk tempat wisata ini banyak pilihan harga tiket, tapi buat yang masih muda dan bergairah seperti aku, langsung beli aja tiket terusan seharga Rp. 20.000,- Namanya tiket terusan, jadi bisa terus ke mana mana hehe…tapi ya tetap di kawasan ini.
Setelah puas kita berputar putar mengelilingi area taman wisata ini, siap2 untuk melakukan trekking yang cukup lumayan sekitar 2,5 km, jadi saran aku jangan pakai baju atau celana dari bahan jeans karena sudah jelas berat, apalagi yang cewek cewek nggak usah sok cantik trus pake gaun hehe…bcanda ya.

Berjalan menyusuri hutan tapi sudah ada petunjuk arah nya, tujuan kita selanjutnya adalah Pancuran Pitu. Sekilas mengenai tempat ini adalah sekali lagi aku jelasin arti kata nama nya, terjemahan versi “gue” adalah air yang mengucur dari 7 lobang. Dan memang benar seperti itu setelah nanti kalian liat foto nya, dan lobang itu terbentuk karena aliran air panas yang mengandung belerang secara terus menerus. Sehingga batuan penyangga 7 lobang tersebut bewarna kuning bata layaknya warna belerang, dan di sekitar nya banyak dijual bubuk belerang dan warga setempat yang menawarkan pijat menggunakan belerang tersebut. Satu tambahan lagi, jangan takut untuk menuju tempat ini, karena kalau kelelahan bisa beristirahat di kios2 yang menjual aneka makanan dan minuman dingin. Penasaran kayak apa bentuknya, ayo lihat hasil jepretan kamera ku.

so…sesuai nggak dengan narasi aku, ayo tepuk tangan dulu donk. Terimakasih, thank you, xie xie dan su un dalam bahasa jawa nya, untuk moto ini aku harus jongkok dan nunggu sampai nggak ada pengunjung yang melakukan ritual cuci muka di sini, mungkin dipercaya bisa bikin awet muda, karena kalau ada yang cuci muka jelas lobang nya akan tertutup sebagian. Tak mau ketinggalan setelah berhasil mengambil gambar aku juga meluangkan waktu untuk cuci muka, air nya cukup panas tapi nggak bikin kulit mengelupas kok, panas panas dikit gpp yang penting awet muda itu tadi hehe…
Ayo…gantian ama yang lain, mentang mentang ada khasiatnya sampai lupa ama pengunjung lain nya yang juga mengantri. Aku lanjutin perjalanan ya, nggak jauh dari Pancuran Pitu ada jalanan ke arah bawah melewati anak tangga yang cukup banyak, nggak perlu dihitung, karena ini bukan anak tangga Gunung Bromo hehe…malah pusing nantinya.
Yang perlu diingat untuk menuruni anak tangga ini kita harus hati hati, karena meskipun bukan musim hujan, jalanan nya rada licin karena efek dari percikan air yang cukup deras di bagian goa nya. Beda dengan air yang di Pancuran Pitu, justru air yang jatuh deras di sini cukup dingin, dan jangan sungkan sungkan untuk mencoba mandi, tapi nggak perlu pakai sabun segala, karena ini bukan audisi iklan sabun colek hehe…yuk kita intip Goa Selirang,
Batuan yang terlihat di atas adalah bentukan alam secara natural, dan kalau mau melihat lebih dalam sebenarnya Goa ini pendek dan kayak nya merupakan jalan buntu. Jadi yang bisa dilakukan di sini adalah berfoto dengan bebatuan yang unik dengan gradasi warna kuning kehitaman, dan merasakan segarnya air yang berasal dari gunung Slamet, jadi jangan lupa masukin baju ganti di tas yang kalian bawa. Sebenarnya dari sini, aku jalan lagi menuju lokasi pemandian air panas yang dikenal dengan Pancuran Telu, tapi sayang nya pas menuju lokasi hujan datang dan aku nggak bisa keluarin kamera. Tapi andai difoto pun, tempatnya tidak terlalu bagus dan aku saat itu berusaha menemukan pancuran nya, dan tidak jelas juga yang mana. Tapi di sini, kita bisa berendam di kolam air belerang dan jangan dibayangkan seperti kolam renang ya, gambaran nya adalah kolam dengan ukuran 4 m x 5 m dan tidak terlalu dalam, air nya keruh tapi dipercaya masyarakat sekitar bisa menyembuhkan penyakit kulit. Jadi kalau sudah sampai Baturaden, sekalian aja mampir buat berendam dan siapa tahu kadas, kurap atau penyakit kulit yang kalian derita bisa langsung lenyap hehe…
Berendam sambil menunggu hujan reda, untung nya nggak perlu waktu yang lama, sehingga perjalanan bisa aku lanjutkan. lokasi berikutnya sedikit beda dengan yang sebelum nya. Keluar dari kawasan Baturaden, aku naik ojek menuju tempat yang disebut Telaga Sunyi, yang ada dibayangan aku selama 15 menit perjalanan adalah aku bakal melihat kolam air di tengah hutan dan sunyi. Lamunan aku belum selesai ketika si tukang ojek memberitahu kalau aku sudah tiba. 
Ternyata aku nggak salah salah banget dengan bayangan yang tadi, Telaga Sunyi merupakan perpaduan antara sungai dengan air terjun, aliran sungai nya membentuk kolam kolam alami. Dari parkiran motor, aku turun ke bawah melewati tangga lagi, tapi kali ini aku berdecak kagum karena seakan akan masuk dunia lain dan sedikit lebay, kayak bukan di pulau Jawa, karena pemandangan yang aku lihat lebih bagus dari harapan. Dari kejauhan sudah nampak sebuah kolam di ujung bebatuan, semakin dekat semakin terlihat keindahan nya, tidak terlalu besar, tapi air yang ada di sana sangat jernih dan dengan kasat mata kita bisa melihat langsung dasar dari kolam tersebut, dan suara gemericik air menambah keheningan suasana. Aku mengiyakan dalam hati, bahwa tidak salah kalau area ini diberi nama Telaga Sunyi. Oiya sayang nya di sini tidak diperbolehkan berenang, tetapi juga ada baiknya, karena selain menjaga kebersihan dan keasrian alam nya, sudah tahu khan kebanyakan dari kita kadang kurang sadar dengan lingkungan, sekalinya diperbolehkan berenang, malah mandi dan bahkan nyuci baju juga hehe…

Tak terasa kelamaan ngelamun di sini karena terkagum kagum, hari sudah siang menjelang sore, bisa bayangkan kira kira jam berapa yang aku maksud? Udah nggak usah terlalu jadi bahan pemikiran, nanti yang ada kepala kalian jadi botak. Aku berjalan ke parkiran dan melanjutkan perjalanan lagi ke air terjun yang juga cukup terkenal di sini, hanya sekitar 20 menit melintasi jalanan yang penuh dengan pohon2 dan rumput hijau, sehingga mengurangi rasa panas akibat terik matahari yang muncul kembali setelah hujan. Sampailah aku di petunjuk jalan masuk dari air terjun yang lazim diberi nama Curug

Hampir mirip dengan rute yang harus ditempuh saat menuju Pancuran Pitu, tapi bedanya di sini bukan tanjakan untuk menuju curug nya, tapi menurun melewati semak semak tapi yang sudah terbelah searah dengan jalanan yang akan aku jalani, dan sudah terbayang jalan kembali nya yang pasti ngos ngosan, ngerti ya maksud aku. Tapi ambil positifnya saja, kayak iklan sebuah produk susu di mana kita harus melakukan 1000 langkah per hari agar tubuh sehat dan tulang kita kuat hehe… Oiya, sebagai bukti kalau aku emang menjalani semua rute di atas bahkan sampai di sini, aku numpang narsis juga, supaya kalian yang membaca juga melihat yang segar2 hehe…bukan nya aku yang segar tapi pepohonan di sekeliling aku.

Ampun dah, nggak perlu di zoom segala, penasaran banget ama aku…cie cie…kidding ya, mendingan lanjutin jalan aja ya. Cukup lumayan juga sih tenaga yang kita keluarkan untuk melihat air terjun nya, tapi aku selalu yakin kalau untuk melihat tempat wisata dengan tidak mudah kebanyakan yang kita lihat pasti bagus hehe…alias menyenangkan hati supaya tetap semangat. Lamat lamat aku mulai mendengar suara air yang jatuh dari ketinggian dan terpaan air mulai mengenai badan ku, pertanda ini sudah dekat dengan Curug Ceheng, aku mempercepat langkah aku dan akhirnya sampai juga.

Curug Ceheng, memiliki ketinggian air terjun sekitar 13 m, tidak terlalu tinggi dan berada di lereng tenggara Gunung Slamet, merupakan  salah satu bagian dari aliran sungai Pelus yang mengalir ke daerah hilir sampai Sumbang dan Sokaraja. Begitu konon ceritanya mengenai nih Curug. Di sini diperbolehkan mandi tetapi juga tetap harus hati hati, karena pas dekat kucuran air terjun nya, terdapat bagian yang cukup landai sehingga kedalaman nya lumayan juga.
Dari Curug Ceheng aku melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata yang terakhir di sini, sama air terjun nya, tapi di sini juga digunakan untuk teman teman yang hobby camping, karena ada bumi perkemahan dan selain itu kita bisa menginap di wisma yang tidak terlalu jauh dari air terjun nya. Wisma Curug Bayan namanya dan dibangun di atas Sungai Banjaran
Oiya untuk sampai Curug Bayan, kita tidak sesulit atau secapek perjalanan tadi ke Curug Ceheng, karena turun dari motor di parkiran, aku sudah tinggal jalan sedikit dan sampai di air terjun nya. Curug Bayan memiliki ketinggian air terjun hanya 7 M dengan luas areal kolam air nya sebesar 200 – 300 M persegi dan cukup dalam juga. Kolam ini sering digunakan untuk berenang masyarakat sekitar.

Okay dech, cerita jalan jalan aku di kawasan Baturaden selesai sampai di sini ya, untuk aktifitas yang aku lakukan berikutnya terpaksa harus disensor, karena aku harus berbaur dengan masyarakat sekitar dan adegan mandi hehe….dan pastinya sampai ketemu di perjalanan aku berikut nya

SHARE
Previous articleAll Season Jakarta Gajah Mada
Next articlePulau Temawan, Tarempa Anambas
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan selalu memberikan makna yang mendalam. Percaya atau tidak, datang ke destinasi yang sama sekalipun, kalian akan selalu mendapatkan cerita yang berbeda. Jadi jangan pernah merasa bosan untuk melakukan perjalanan, terus melangkah dan bagikan pengalaman kalian kepada orang lain, layak nya aku seorang KoperTraveler

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here