Wakatobi, Takkan Terlupakan (Part 3): Serunya Tomia

4
845
Hari masih gelap ketika bunyi alarm dari HP aku berbunyi, di luar kamar pun masih sunyi. Tapi sesuai informasi semalam, acara hari ini harus dimulai dari sejak pagi sebelum matahari bersinar, karena kita akan diajak melihat keindahan Tomia, mulai dari satu lokasi ke lokasi yang lain nya.
Mata masih sulit terbuka, yang pasti bisa menghalau adalah air, bergegas aku masuk kamar mandi dan bersiap. Selesai dan keluar dari kamar, sudah tersedia beberapa jenis gorengan yang masih panas dan minuman kopi dan teh…Sarapan sederhana tapi sangat nyaman dan cukup sebagai pengisi energi pagi ini.
Mengejar Sunrise

Mobil jenis terbuka sudah siap mengantar aku menuju lokasi pertama yaitu Pantai Huntete, berada di Desa Kulati masuk Kecamatan Tomia Timur, merupakan pantai yang terpanjang di Tomia dengan hamparan pasir putih dan pohon kelapa sebagai pemanis pemandangan, serta ada karang besar di pinggir pantai yang bisa dijadikan salah satu spot foto. Memerlukan 30 menit perjalanan untuk sampai pantai ini, setelah melewati jalan yang penuh tanjakan dan sedikit kurang rata karena tidak semua nya beraspal. Pastikan cuaca cerah untuk tujuan ini, karena merupakan lokasi untuk melihat sunrise yang indah, meskipun tidak dipungkiri bahwa sunset yang indah nggak hanya bisa dilihat di sini saja. Untung nya meskipun saat berangkat kondisi cuaca sedikit kurang mendukung, tapi setelah menunggu kurang lebih 30 menit dari saat pertama menginjakkan kaki di pantai ini, sunrise yang ingin kita lihat muncul dengan malu malu.

Sunrise Di Pantai Huntete
Spot Foto Pantai Huntete

Hangat nya sinar matahari mulai terasa ketika aku melanjutkan perjalanan menuju sebuah tebing yang nama nya disamakan dengan Goa yang disebut Liang Kuri Kuri, menurut cerita warga setempat diberi nama itu karena dinding batu Goa tersebut ditumbuhi lumut yang bewarna kuning, tapi karena alasan waktu aku hanya mengambil gambar dari tebing yang bisa melihat keindahan pantai yang ada di bawah tebing, sebenarnya kalau dituruti kehendak hati, ingin mencari akses untuk turun menuju pantai tersebut. Dan ada cerita legenda mengenai Goa ini, dahulu kala saat nelayan pergi melaut, mereka selalu melihat cahaya kuning yang muncul dari mulut Goa, sehingga Goa itu dikeramatkan dan para nelayan akan berhati hati saat melewati nya dan akan membuang siri pinang atau rokok sebagai pertanda salam mau lewat.

Tebing Liang Kuri Kuri

Bukit Tomia, tujuan aku berikutnya. Merupakan obyek wisata dataran tinggi yang berada di Desa Kahyangan, masih masuk dalam Kecamatan Tomia Timur. Jika di pantai kita disuguhi hamparan pasir putih, di sini kita bisa melihat hamparan rumput hijau kekuningan, merupakan padang savana yang sangat indah. Disini juga terdapat kata TOMIA yang besar terbuat dari semen. Jika kita mau turun sampai rada ke bawah, tetapi tentunya harus hati hati karena jalanan nya cukup terjal dan tanpa pegangan. Tetapi begitu sampai di bawah kita bisa mengambil gambar padang rumput tersebut dengan background lautan lepas, sangat indah.

Tulisan TOMIA besar
Padang Savana Bukit Tomia

Tak terasa panasnya matahari sudah sampai ke ubun ubun, hampir pukul 12 siang ketika aku melihat jam di tangan. Saat kembali ke homestay untuk makan siang. Dalam perjalanan balik, melewati sebuah keramaian di pinggir jalan, ternyata pasar tradisional, penasaran juga untuk melihatnya dan aku putuskan untuk mampir. Sebuah pasar yang para penjual nya menggelar dagangan di pinggiran toko toko permanen, riuh rendah suara orang yang bertransaksi dan saling menawar dengan bahasa setempat, aku berkeliling mencari makanan ringan khas Wakatobi dan baru mengetahui ternyata lokasi pasar ini berada di pinggir laut, unik juga sih

Pasar Tradisionl

Perut semakin keroncongan, bergegas kembali ke mobil dan beneran balik ke homestay, makan siang sudah tersedia, menu ikan menjadi andalan selama di sini dan tak ketinggalan telor dalam aneka rasa yang berubah setiap jam makan. Setelah menyelesaikan makan siang, berkemas untuk jalan ke pantai dan snorkeling, moda transportasi speedboat yang akan digunakan untuk sisa hari ini.

Siap menjelajah perairan Tomia

Mari Mabok jadi tujuan pertama dalam kegiatan siang sampai senja nanti, oiya mari mabok merupakan nama salah satu spot snorkling yang ada di sini. Konon nama ini berasal dari ungkapan seorang penyelam yang mabuk saat melihat keindahan bawah laut di lokasi ini, bahkan ada yang menceritakan ada seorang diver yang kehabisan oksigen saat menyelam, disebabkan ybs tidak mau naik karena dibuat mabuk oleh cantiknya coral yang dia lihat. Oiya, buat yang ingin mencoba diving, di sinilah tempatnya, karena tanpa mempunyai lisensi, kalian bisa mencoba merasakan sensasi masuk ke kedalaman laut dan menyaksikan keindahan dalam sebuah keheningan.

Discovery Dive

Snorkeling
Terumbu Karang

Benar benar memabukkan keindahan nya, tapi cukup terasa lelah juga, bukan nya faktor U lho ya alias umur, tapi karena berenang di air asin katanya badan lebih mudah terasa lelah, Beranjak menuju Pulau Sawa menjadi destinasi berikutnya, perjalanan hanya sekitar 20 menit ketika dari kejauhan terlihat sebuah pulau dengan gundukan pasir putih yang nampak keemasan diterpa teriknya matahari siang ini.

Menuju Pulau Sawa

Tetapi sedikit ada kendala ketika aku sampai di pulau ini, menurut pengemudi speedboat, kapal tidak bisa merapat ke pulau karena airnya terlanjur cepat surut, ybs takut kapalnya tersangkut karang atau tumbuhan laut.

Perairan Pulau Sawa

Kecewa juga, sudah jauh jauh kemari malah tidak bisa menginjakkan kaki di pulau tersebut, tapi untung nya setelah melalui pembicaraan yang cukup alot, akhirnya didapatkan solusi yang okay, speedboat mengantar kita menuju pulau dengan catatan sampai batas di mana kapal masih bisa berjalan. Akhirnya aku menginjakkan kaki di pulau yang sangat indah, hamparan pasir putih, pohon kelapa di pinggiran pantai dan masih alami. Pulau ini hanya dihuni oleh satu keluarga, dan hampir menyerupai pulau Gusung, dimana gundukan pasir akan muncul saat air laut surut.

Hamparan Pasir Putih dan Pohon Kelapa
Gundukan Pasir Putih

Puas sudah menikmati pantai dan bermain air, tetapi saat balik ke speedboat aku harus melewati beberapa tantangan yang boleh dibilang tidak mudah, dan baru sadar ternyata jarak dari pantai ke arah kapal lumayan jauh. Tantangan pertama, sepanjang pantai selama masih tampak pasir putih di situ harus berhati hati karena ikan pari putih bersembunyi dan memungkinkan akan menyengat kita dengan ekornya dan juga sesekali terlihat ular laut yang melintas, sehingga sembari berjalan di atas air, harus memukul permukaan air untuk menghalau ikan pari mendekat.

Di perairan tempat ikan pari berenang
Ular Laut sesekali melintas

Setelah lolos dari tantangan ini, tanpa disangka sebelumnya ternyata di pulau ini ada bintang laut berwarna orange ukuran besar yang jumlahnya ratusan atau bahkan lebih. Senang sekali bisa melihat bintang laut secara langsung tanpa harus berenang ke dalam seperti di kepulauan lain nya.

Bintang Laut

Tantangan kedua, perairan dengan pasir putih mulai bercampur dengan tumbuhan laut dan lama lama semakin rimbun, jelas ikan pari sudah tidak bisa berenang di sini, tetapi ada yang lebih membahayakan juga sekarang, yaitu bulu babi menghadang. jumlah nya juga nggak kalah dengan bintang laut, ukuran nya lebih kecil tapi berkumpul. jadinya mata tetap harus awas menunduk ke bawah karena warna nya pun kadang menyerupai karang. Dan tantangan terakhir alias ketiga, adalah saat kapal sudah nampak dekat ternyata itu merupakan perbatasan pantai dengan laut lepas sehingga terbentuk palung dengan karang tajam, sesekali ada ombak kecil menerpa badan sehingga menjadi tidak seimbang, di sini aku beberapa kali terkena goresan karang tajam, tapi syukurlah bisa kembali ke speedboat dengan hanya lecet lecet di kaki.

Perjalanan belum selesai, speedboat mengarungi lautan lagi dan berhenti di satu tempat yang merupakan spot snorkeling bernama Table Coral City, sesuai dengan namanya dimana kalau diartikan adalah kota terumbu karang yang seperti meja. Saat sebelum turun, secara kasat mata kita sudah bisa melihat hamparan soft coral yang didominasi warna kuning keemasan, dan setelah menyelam aku hanya bisa berdecak kagum, tetapi harus hati hati juga karena jarak antara coral sangat rapat dan tehadap permukaan laut tidak terlalu jauh.

Table Coral City
Amazing 

Pantai Hondue dan Pantai Lentea merupakan destinasi penutup dari perjalanan aku di Wakatobi, keduanya merupakan pantai dengan karakter yang sama dan lokasinya hampir berdekatan, pasir putih dan air laut tenang dan jernih menjadi andalan nya dan tentunya untuk mencapainya tidak perlu usaha keras sepeti ke pulau Sawa, Saat sampai di pantai ini, memang tidak ada penghuni nya, tapi kadang sesekali ada nelayang yang merapat untuk merapikan jala dan hasil tangkapan mereka. Sangat cocok buat bersantai dan duduk sambil memandang laut lepas. Sekaligus merenung dan bersyukur bisa sampai dan melihat keindahan Tomia yang menjadi bagian dari Wakatobi secara langsung. Senja mulai datang, semburat cahaya matahari mulai menghilang, dan disini cerita ku tentang wakatobi selesai dan akan berlanjut di destinasi yang lain nya.

Sunset
Beautiful Sunset @ Tomia

SHARE
Previous articleWakatobi, Takkan Terlupakan (Part 2) : Serunya Bertemu Kalian
Next articleBanda Neira, Ku akan Datang
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan selalu memberikan makna yang mendalam. Percaya atau tidak, datang ke destinasi yang sama sekalipun, kalian akan selalu mendapatkan cerita yang berbeda. Jadi jangan pernah merasa bosan untuk melakukan perjalanan, terus melangkah dan bagikan pengalaman kalian kepada orang lain, layak nya aku seorang KoperTraveler

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here