Merasakan sebuah kepuasan, saat berada di puncak

8
259
Pulau Padar
Beberapa kapal yang sedang merapat

Teriknya matahari tak menyurutkan sedikitpun niat aku untuk mendaki Pulau Padar, yang memang sudah jadi bahan pembicaran sejak kapal boat yang aku tumpangi meninggalkan pelabuhan Labuan Bajo. Beberapa kapal lain nya juga sudah melemparkan jangkar tidak jauh dari bibir pantai, sesuai arahan dari orang kapal, maka aku berpindah ke perahu kecil yang akan mengantarkan aku untuk mendekati jalur trekking. Tak sampai 5 menit, aku sudah berdiri di hamparan pasir pantai dan siap untuk naik ke atas bukit dari pulau ini,

Pulau Padar
Hamparan Pasir Putih di pinggir pantai

Jalur trekking terlihat jelas, menunjukkan bahwa sudah banyak orang yang menggunakan jalan ini setiap harinya, tanjakan awal cukup menjadi tantangan tersendiri, karena kita sudah harus mulai mendaki sejak dari bawah. Menyusuri jalanan yang merupakan tanah padat dan sedikit gersang, aku mengatur langkah dan tarikan napas supaya tidak terlalu cepat lelah.
Pulau Padar
Jalur trekking awal saat menuju bukit

Setelah tanjakan yang cukup tajam, aku berhenti sejenak untuk mengatur napas dan meneguk minuman dari botol yang aku bawa, dari sini sudah terlihat keindahan sisi lain dari pantai yang nampak dari kejauhan. Ini belum separuh jalan, gumamku dalam hati.
Pulau Padar
Sisi lain keindahan Pulau Padar

Aku melayangkan pandangan ke atas, terlihat beberapa orang yang sudah terlebih dahulu mendaki ke puncak bukit, aku yakin pasti bisa, melanjutkan langkah kaki ku dengan perlahan tapi pasti, teringat kata bijak dari seorang teman yang memang pendaki gunung “Nyo, kalau kamu naik gunung, jangan berpikir kamu pasti mencapai puncak, tapi berpikirlah bahwa kamu akan pulang dengan selamat”. Hal ini yang membuat langkahku semakin mantab.
Pulau Padar
Jalur Tanjakan yang harus aku lewati

Pulau Padar
Terus melangkah tanpa lelah

Kurang lebih sekitar 30 menit aku berjalan sejak dari bibir pantai, akhirnya aku sampai pada titik di mana bisa melihat keindahan yang selama ini hanya aku dapat dari cerita teman atau postingan dari para traveler di akun instagram nya. Wow…amazing, sebuah anugerah dari Tuhan yang bisa aku lihat dengan mata kepala sendiri dan mengabadikan nya.
Pulau Padar
Keindahan yang merupakan anugerah sang pencipta

Seperti mendapatkan energi tambahan, aku kembali melanjutkan pendakian ke posisi yang lebih tinggi lagi, air di dalam botol minuman masih tersisa sepertiga bagian, cukuplah untuk aku minum saat di puncak nanti. Dan ternyata memang benar, semakin tinggi aku mampu mendaki bukit ini, semakin indah pemandangan yang bisa aku lihat. Aku duduk di salah satu batu, menghabiskan air minum dan merasakan sebuah kenikmatan saat berada di puncak Pulau Padar.
Pulau Padar
Merasakan kepuasan tersendiri saat melihat sebuah keindahan

Tak berapa lama aku mendengar teriakan dari arah bawah, kapal segera akan berangkat menuju tempat wisata yang lain, sedikit terasa berat untuk meninggalkan keindahan ini, tapi aku berpikir suatu saat akan bisa kembali lagi. Aku berlari kecil tapi tetap berhati hati, karena jalanan menurun dan tanah yang kering kadang juga masih menyisakan pasir. Melewati beberapa teman yang masih asik berpose dan mengambil gambar, aku bergegas kembali ke arah kapal.
Pulau Padar
Tak habisnya berpose dan mengambil gambar

Sebelum meninggalkan pulau Padar, tepat di ujung jalan menuju arah kembali ke pantai, aku membaca tulisan “Terimakasih Anda Tidak Membuang Sampah” dan untungnya botol minuman yang sudah habis isinya masih ada di dalam gengaman tangan aku.
Pulau Padar
Jangan Buang Sampah Sembarangan

Catatan perjalanan ini aku tulis saat bulan Mei bersama teman teman Travel Blogger Indonesia yang bekerja sama dengan Asita NTT dalam rangka #ExploretheDiversity dengan mengunjungi Labuhan Bajo dan sekitarnya

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here