Diayak, sampai juga ke Wayag

12
1396
Dermaga Pelabuhan Waisai

Trip ke Wayag? Beneran nih, berapa lama? Apa 10 hari? Oh itu sekalian ama urus resort nya, bonusnya kita dapat Trip ke Wayag. Masih teringat pembicaraan aku dengan Nanda via telpon beberapa bulan yang lalu. Masih nggak percaya bakalan ke Raja Ampat, karena aku selalu bilang tahun 2016 baru bisa ke sana

Tepat pukul 19.00 aku sudah ada di Bandara Soekarno Hatta, sebenarnya tiket penerbangan Jakarta – Sorong via Makasar pukul 21.00. Kebetulan juga tanpa delay, jadi sekitar jam 00.30 mendarat di Makasar, berarti sekitar 2,5 jam aku berada di dalam pesawat, karena ada perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dan Makasar. Transit selama 3 jam, seperti biasa Starbucks bandara jadi tongkrongan karena memang buka 24 jam. Jam 03.00 pengumuman untuk masuk ke dalam pesawat terdengar, begitu duduk di bangku pesawat, sudah tidak bisa lagi menahan kantuk, yang ada aku baru terbangun ketika pesawat mendarat di Sorong, dan saat itu sudah pukul 06.30 pagi. Oiya berarti di Jakarta masih jam 04.30 lho, yang mana biasa masih sembunyi di balik selimut.
Keluar dari Bandara Dominique Edward Osok, mobil jemputan sudah siap di parkiran, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Sorong, tapi sempat sarapan nasi kuning.

Pelabuhan Sorong
Pelabuhan Sorong

Kapal Cepat Express Bahari mengantar aku menuju Pelabuhan Waisai, dimana waktu tempuh sekitar 2 jam dari Sorong, kondisi kapal termasuk bagus, ada fasilitas toilet dan AC cukup dingin, hiburan film juga disajikan dari TV yang berukuran besar. Pukul 12.00 kapal merapat di Pelabuhan Waisai, semakin dekat untuk sampai di penginapan yang sudah aku pesan, alias tinggal selangkah lagi. Sebelum menuju dermaga kecil, dimana kapal boat milik resort sudah siap buat mengantar ke penginapan, aku menuju loket pembelian PIN Raja Ampat, yang merupakan kewajiban setiap wisatawan dalam maupun luar negeri yang akan explore Raja Ampat, seharga 500 ribu per wisatawan domestik dan 1 juta per wisatawan asing.
Dermaga Pelabuhan Waisai
Dermaga Pelabuhan Waisai

Nah, dari Waisai ke Hamueco Dive Resort (lihat postingan aku sebelum nya) hanya memerlukan waktu selama 20 menit. Bisa kalian bayangkan, berapa lama perjalanan yang harus ditempuh mulai dari Jakarta sampai penginapan. Jadi rangkaian Wayag Trip baru akan dimulai esok, sore ini digunakan untuk menikmati dan beraktifitas di resort, karena selain badan masih capek dan itinerary yang bakal dijalani pun cukup memerlukan stamina yang cukup.

Trip hari pertama
Sekitar pukul 06.30 aku membuka jendela kamar, cahaya matahari menyilaukan langsung masuk menembus ke dalam kamar, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah itu menikmati sarapan yang sudah disediakan oleh Hamueco Dive Resort. Tepat pukul 09.00 aku sudah berdiri di ujung dermaga dan bergegas masuk ke dalam kapal boat yang sudah siap mengantar berkeliling, sesuai itinerary yang ada, hampir semua kegiatan hari ini berhubungan dengan air, jadi semua bawaan aku masukin ke dalam drybag dan tak lupa membawa baju ganti dan handuk untuk persiapan.

Motor Boat
Motor Boat

Tujuan pertama adalah Pasir Timbul Mansuar perjalanan selama 45 menit dari resort, destinasi ini diletakkan di paling awal, jika terlalu siang maka pasir timbul ini akan hilang karena air laut pasang. Jadi saat pasir timbul mulai nampak, air laut semakin dangkal dan motor boat yang aku tumpangi dimatikan mesin nya, awak kapal mulai memajukan kapal dengan menggunakan bantuan kayu. Pasir Timbul selalu memberikan keindahan yang sangat spektakuler, apalagi saat matahari bersinar terang, pantulan cahaya di pasir ditambah aliran air laut dengan riak kecil nya menjadi paduan sempurna.
Darwis, sang awak kapal
Darwis, sang awak kapal

Pasir Timbul Mansuar
Pasir Timbul Mansuar

Puas mengambil beberapa gambar, perjalanan dilanjutkan ke lokasi kedua, yaitu Manta Point, tapi sayang nya ketika sampai dan berusaha beberapa saat berhenti, ikan manta yang ditunggu tak kunjung muncul, sehingga diputuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan menuju rute ketiga Kampung Wisata Arborek. Kapal yang aku tumpangi merapat di sebuah dermaga yang telihat rapi, dominasi warna biru dan coklat kayu dengan kombinasi kuning, hitam membuat mata ini menjadi segar, iya benar ini adalah dermaga yang dimiliki oleh kampung wisata yang akan aku kunjungi.
Dermaga Kampung Wisata Arborek
Dermaga Kampung Wisata Arborek

Desa ini memang layak disebut kampung wisata, karena memang berbeda dengan beberapa desa yang pernah aku kunjungi sebelum nya, dimana saat hendak memasuki gapura melalui jembatan kayu yang juga merupakan lanjutan dari dermaga, banyak papan kayu yang dipasang, beberapa tulisan terpampang bertujuan untuk memberitahukan hal hal yang seharusnya tidak dilakukan saat berada di area perkampungan.
Jalan Masuk Kampung Wisata
Jalan Masuk Kampung Wisata

Begitu masuk ke dalam area perkampungan, aku bisa merasakan kenyamanan sekaligus semakin yakin kalau desa ini sudah dipersiapkan untuk menyambut wisatawan yang berkunjung, karena sudah ada kedai yang menjual makanan kecil dan minuman, tempat duduk santai dengan meja yang bisa digunakan untuk berteduh, dan di pinggiran pantai banyak kursi kayu untuk berjemur, bagi yang pengen hitamin kulit.
Kampung Wisata Arborek
Kampung Wisata Arborek

Tempat Duduk Santai
Tempat Duduk Santai

Kursi Santai depan Pantai
Kursi Santai depan Pantai

Oiya, Kampung Wisata Arborek merupakan spot snorkeling pertama dalam trip hari pertama, tidak perlu berenang terlalu jauh, cukup di bawah ujung dermaga, dekat tempat motor boat merapat. Keunggulan dari spot ini adalah jumlah ikan warna warni yang tidak terhitung saking banyak nya, jadi sebaiknya kalau mau mengambil gambar dengan background ikan tersebut kita membawa makanan ikan ditaruh dalam botol apa saja, dan saat sudah berada di dalam air sedikit demi sedikit dikeluarkan, sehingga akan banyak ikan berkumpul.
Snorkeling
Snorkeling

Nggak terasa sudah hampir jam 12, jadi sebelum melajutkan perjalanan menuju spot snorkeling yang berikutnya, aku membuka bekal nasi yang sudah disiapkan dan dibawa sejak pagi saat berangkat. Meskipun makanan sudah tidak hangat lagi, tapi karena efek perut lapar akibat berenang di air laut, jadi nasi dengan lauk ayam goreng terasa nikmat. Setelah perut terisi dengan baik, motor boat mulai berjalan lagi, kali ini ke arah Yenbuba, boleh dibilang selama pengalaman aku snorkeling setahun ini, jarak yang ditempuh dengan berenang dan menyelam di sini adalah yang terjauh, dari tengah lautan sampai ke ujung dermaga dan pemandangan keindahan bawah laut nya bikin betah, oiya di spot ini kita juga bisa bertemu dengan penyu.
Awal Turun di Tengah Laut
Awal Turun di Tengah Laut

Dermaga, Tujuan akhir Snorkeling
Dermaga, Tujuan akhir Snorkeling

Keindahan Bawah Laut Yenbuba
Keindahan Bawah Laut Yenbuba

Spot snorkeling yang terakhir sebelum aku menyelesaikan rangkaian trip hari pertama adalah yang diberi nama Friwen Bonday , lokasinya tidak terlalu jauh dari spot snorkeling sebelum nya, berada di pinggiran tebing dan memiliki karakter palung, sehingga guide yang mendampingi selama perjalanan mengingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan batu karang yang ada di tebing, karena ditakutkan kalau mendadak ada ombak besar, kita bisa terhempas ke tebing. Hampir sama dengan sebelum nya, jarak yang ditempuh untuk snorkeling cukup panjang, dimana aku harus berenang menyusuri tebing, keindahan terumbu karang di sini boleh dapat acungan jempol alias bagus banget
Friwen Bonday
Friwen Bonday

Snorkeling sepanjang pinggiran tebing
Snorkeling sepanjang pinggiran tebing

Keindahan Palung
Keindahan Palung

Tak terasa, hari sudah semakin sore, puas seharian ini bisa bermain air laut dengan berbagai cara, sekarang waktunya buat balik ke resort, mandi, makan malam dan segera beristirahat, karena besok masih harus menjalani lanjutan trip hari ini.

Trip Hari Kedua
Semangat Pagi, tidak terlalu beda dengan kemarin, sekitar pukul 09.00 aku sudah kembali siap di dermaga, tapi saat penjelasan singkat semalam dari petugas resort, rute hari ini lebih berat dan tidak ada aktifitas yang berhubungan dengan air, yang jadi berat adalah jarak tempuh yang cukup lama, alhasil yang bikin beda pagi ini adalah kapal boat yang digunakan lebih besar dengan kapasitas untuk 15 orang.

Kapal Cepat
Kapal Cepat

Setelah semua peserta masuk ke dalam, kapal cepat segera melaju dengan kecepatan yang cukup kencang, fasilitas kapal ini dilengkapi dengan toilet di dalam nya dan bagian depan tertutup rapat, hanya di bagian belakang yang terbuka. Sekitar 1 jam perjalanan, kapal berhenti di sebuah dermaga pendek. Nama desanya Selpele, nampak anak anak kecil sedang bermain di atas dermaga kayu. Oiya aku hampir lupa menyebutkan tujuan hari ini ke mana? Aku bakal ke Wayag, dan ternyata untuk bisa sampai di sana selalu harus mampir di desa ini karena meminta ijin kepada Kepala Kampung Adat, di sini menunggu cukup lama juga, karena ini hari Minggu dan Ketua Adat masih ibadah, jadi daripada bosen di dalam kapal aku sempatin turun dan mengambil foto desa.
Desa Selpele
Desa Selpele

Hampir satu jam lebih berada di desa Selpele, akhirnya aku bisa melanjutkan perjalanan, kapal segera melaju lagi, tapi tak berapa meninggalkan desa, rute memasuki area laut lepas dan semakin dirasa ternyata ombak makin besar, sehingga sebagian air mengenai penumpang yang duduk di bagian belakang kapal, cukup bikin mual juga lho ombaknya, seperti nya perut aku diayak oleh ombak, tapi untung nya aku udah biasa berada di lautan lepas, sebagian penumpang sudah merasa sedikit pusing, karena kondisi seperti ini berlangsung sekitar 1,5 jam, sampai akhirnya ombak mulai melemah dan kapal berhenti sekali lagi di pusat konvervasi dan pemeriksaan PIN yang sudah aku beli sejak menginjakkan kaki di Waisai. Di sini semuanya turun dari kapal untuk mengisi perut dengan bekal makan siang yang sudah disiapkan. Di sini kita bisa makan sambil duduk di pinggiran dermaga yang dibawah nya ada banyak ikan kecil yang diberi nama Nobu dan ikan hiu jinak berukuran besar, jadi benar benar pengalaman unik yang aku dapatkan, satu lagi yang jadi tambahan nya adalah pantai di pusat konservasi bagus banget dan mengundang aku buat nyemplungin badan, sayang nya waktu yang tidak mengijinkan.
Ikan Nobu dan Ikan Hiu
Ikan Nobu dan Ikan Hiu

Pantai di Pusat Konservasi
Pantai di Pusat Konservasi

Setelah membersihkan semua peralatan makan dan sisa sampah yang ada, perjalanan dilanjutkan lagi, untung ombak tidak sebesar tadi, dan sisa perjalanan ini aku disuguhi pemandangan karang karang besar yang terlihat di kiri kanan kapal boat yang aku tumpangi.
Karang Besar
Karang Besar

Tak berapa lama, kapal cepat merapat pada dinding tebing, kaget juga karena aku tidak melihat ada jalanan yang nunjukin arah trekking ke puncak Wayag 2, dan ternyata memang untuk sampai di atas aku harus melewati karang yang sedikit tajam dan menanjak, dan di tengah perjalanan, tebing karang bercampur dengan tanah coklat tapi tetap menanjak, benar benar diperlukan ke hati hatian dan kurangin bawaan yang mau di bawa ke atas. total waktu trekking buat aku kurang lebih selama 30 menit, dan saat hampir sampai di puncak aku menyempatkan mengambil sebuah gambar karena tanpa sengaja aku melihat ada kapal cepat lain yang berjalan membelah lautan di tengah karang karang besar.
Trekking di Karang
Trekking di Karang

Karang bercampur Tanah Coklat
Karang bercampur Tanah Coklat

Kapal Cepat di tengah lautan
Kapal Cepat di tengah lautan

Dari kejauhan aku sudah mendengar teriakan dari peserta lain yang sudah sampai duluan di puncak, luapan kegembiraan bisa aku rasakan juga, sehingga aku tak mau membuang waktu terlalu lama dan bergegas naik dengan semangat tambahan karena tak mau kalah dengan yang lain nya.
Oh my God…itu kira kira ungkapan perasaan yang ada di dalam hati aku ketika akhirnya aku sampai di puncak Wayag 2 dan menyaksikan sendiri keindahan yang selama ini tidak terbayang bakal aku lihat di tahun 2015, thanks God bucketlist aku 2016 terpampang di depan mata aku sekarang, meskipun terasa “Diayak, sampai juga aku di Wayag”
Wayag
Wayag

Pemandangan dari Wayag 2
Pemandangan dari Wayag 2

Sisi lain Wayag 2
Sisi lain Wayag 2

Akhirnya selesai juga paket Wayag Trip aku jalani, banyak suka duka selama perjalanan, dan semuanya terbayar dengan apa yang aku lihat dan rasakan.

Catatan:

Buat yang pengen mengambil paket perjalanan Wayag yang seperti aku di atas, bisa hubungi langsung :

Hamueco Dive Resort Raja Ampat
www.hamueco.com

SHARE
Previous articleSurga Kecil di Hamueco Dive Resort Raja Ampat
Next articleArtotel Surabaya
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan selalu memberikan makna yang mendalam. Percaya atau tidak, datang ke destinasi yang sama sekalipun, kalian akan selalu mendapatkan cerita yang berbeda. Jadi jangan pernah merasa bosan untuk melakukan perjalanan, terus melangkah dan bagikan pengalaman kalian kepada orang lain, layak nya aku seorang KoperTraveler

12 COMMENTS

  1. KoHar, senengnya baca tulisan kamu. Baru diceritakan aja sudah terasa indahnya Raja Ampat, mmmh mudah2an bisa travelling kesana juga yaaa . . .

  2. Jalan2 sambil ambil dokumentasi udah biasa.. Tp kalo dibuat cerita yang menggugah orang untuk seolah olah ikut menikmati perjalanannya… Itu luar biasa Har… Bravo Koper Traveler

  3. Koo har!! Kerreeeeeen bngt cerita dan petualangan disanaaa.. :).. Thanks juga sudah kasih wawasan utk melihat WAYAG,… ?

  4. Koookooohhh senangnya liat postingan kamu! Jadi pengen ke Wayag jugaaa… Semoga aku bisa nyusul suatu hari nanti ya koh 🙂 Suka juga dengan web kamu yang baru ini… Semangat nulis dan travelingnya koh! Ketjup basah >,<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here