Kampung Naga, Tasikmalaya

0
1145
Gaes, lagi apa? Sibuk nggak. Mau cerita tentang perjalanan aku pertama kali ikut open trip yang diadain oleh HKR singkatan dari Hantu Kepala Rimba, denger namanya serem juga ya, tapi ternyata kata “Kepala” masih ada kepanjangan nya lagi yaitu Keluarga Pencinta Alam.
Awalnya dari pertemanan di Instagram dengan salah satu personel yang sudah sering ikutan kelompok ini, taruh lah namanya Bunga eh…salah hehe…namanya Rommy, nginfoin kalau week end ada trip ke sini, pas kebetulan waktunya pas, jadi memutuskan untuk coba bergabung.
Seperti biasa sebelum melakukan perjalanan, sempetin buat cari cari informasi mengenai tujuan wisata nya, Awalnya kebayang bahwa di kampung ini pasti ada legenda naga besar yang ngapa ngapain dengan warganya hehe…ternyata bukan. Jadi kampung ini adalah sebuah hunian yang asri dengan masyarakat yang masih memegang kuat adat istiadat peninggalan leluhur nya. Sekilas seperti Kampung Baduy, tapi di sini mungkin lebih terlihat modern, karena masih mau menggunakan hasil dari tehnologi seperti lampu atau pun listrik. Tetapi tetap menolak intervensi dari pihak luar, jika mau mancampuri atau merusak kelestarian kampung ini. Kampung ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Banyak legenda tentang kampung ini dalam berbagai versi, bisa secara mudah dibaca di internet, jadi nggak perlu aku ceritain di sini, karena pasti akan ngantuk hehe…Jadi sudah cukup ya, tapi wait….jangan tutup halaman ini, teruskan membaca kisah perjalanan aku ke Kampung Naga bersama beberapa “Hantu” tapi yang tidak gentayangan…
Okay yukkkk siap berangkat bareng aku ya, bayangin aja dulu serunya sambil konsentrasi di gadget kalian masing masing gaes hehe…ceritanya ini seri petualangan aku setelah berhasil ke Baduy. Pagi pagi buta aku sudah harus kumpul sesuai dengan jadwal yang diberikan…eh bentar kenapa ya kok bisa pakai istilah pagi pagi buta, padahal kalau buta ayaman khan sore…nah apalagi nih, candaan garing. Ayo ini yang serius, tepat pukul 00.00 pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Terminal yang bernama Kampung Rambutan

Suasana lengang dari terminal ini terasa sekali, tetapi sebagian orang nampak duduk atau berdiri dengan kelompok nya masing2, aku segera mencari team leader dari open trip yang aku ikuti, seperti yang aku sebutkan di atas, namanya HKR. Oalah ternyata aku salah turun Gaes, untung aja nggak keambil ama rombongan open trip yang lain hehe…Celingukan kanan kiri akhirnya ketemu juga ama the real rombongan aku. Seperti biasa salam salaman dan belum bisa menghapal nama satu persatu, karena dari 18 peserta aku hanya kenal 2 orang itupun belum pernah ketemu muka.

Sambil menunggu mobil Elf yang bakal membawa rombongan ke lokasi tujuan wisata, acara perkenalan semakin seru, karena ada candaan kecil yang sambung menyambung, sehingga tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 01.00, info dari team leader mobil akan segera datang, oiya ini aku upload foto elf nya ya, tapi jangan sampai ngerusak suasana, karena aku ambil gambarnya saat pagi hari jadi pencahayaan nya kurang nyambung. Tapi yang penting ada gambaran tentang kendaraan yang akan diisi oleh 18 orang termasuk barang barang bawaan hehe…

Jam satu dini hari lebih sedikit, wadow jam model apa ya itu penyebutan nya kok rada aneh, nggak usah bingung Gaes, aku cuma mau kasih tahu saat nya berangkat, begithu di dalam mobil dengan udara dingin dari AC mengundang rasa kantuk, alhasil baru beberapa saat mata sudah merem aja. Perjalanan selama sekitar 6 jam menuju kampung naga dengan pemberhentian sekali di tol arah bandung untuk memberi kesempatan istirahat sejenak dan buang air kecil, tapi nggak tahu lagi kalau ada yang maksa buat buang air besar…ihhh jorok khan jadi nya hehe…
Lelap banget tidur aku, sampai baru tersadar saat ada sedikit keributan karena beberapa orang di bagian depan sudah turun dari mobil. Oh ternyata sudah sampai di pelataran depan Kampung Naga, sambil masih tampang muka bantal, aku mengamati tugu yang ada seperti tugu selamat datang. 
Sambil menunggu waktu untuk turun ke perkampungan, kita sibuk dengan urusan masing masing, ada yang langsung mandi, ada yang melihat lihat situasi sekitar, ada yang berebut colokan listrik di warung tempat istirahat sekaligus makan pagi. Selesai ambil beberapa foto aku memesan makanan, mie goreng dengan telor menjadi pilihannya. Supaya lebih kenyang ditambah nasi satu porsi hehe, maklum abis ini memerlukan banyak energi untuk berjalan menurun dan mendaki.
Tepat pukul 08.00, explore Kampung Naga dimulai, disuguhi tangga menurun sedikit tajam dengan jumlah 420 anak tangga 

Lumayan juga nih, tapi yang terbayang justru nanti pulang nya akan lebih berat soalnya menanjak hehe…tapi daripada dibayangkan capek nya, mending kita bayangkan apa yang akan kita lihat. Separuh perjalanan dari anak tangga, kita sudah melihat sebuah perkampungan asri yang tidak mau dijamah oleh pihak luar, sehingga hampir sama dengan Baduy Dalam, bedanya di sini sudah menerima listrik. Kampung Naga, dalam penuturan aku cie cie…gaya ya, sebuah kampung dimana rumahnya tertata rapi dengan hamparan tanaman hijau dengan aliran sungai yang cukup deras, sehingga suasana pagi ini benar benar terasa damai. Kalau nggak percaya lihat saja sendiri. Eitttsss ngambek hehe…nggak kok justru mau pamer ke kalian 
Sejuk khan melihat foto yang didominasi warna hijau, udara sekitarnya pun sangat segar tanpa polusi. Aku berjalan menyusuri semuanya dan masuk ke dalam perkampungan, Bangunan rumah di sini masih terlihat tradisional, dengan menggunakan atap yang bukan genteng tapi terlihat sangat rapi, Pada saat di sana, ternyata banyak rombongan anak sekolah yang melakukan study tour untuk mengenal lebih jauh mengenai tradisi desa. Ternyata setelah aku cari tahu, pengunjung luar yang boleh menginap di desa ini hanya anak sekolah, sedangkan masyarakat umum tidak diperbolehkan

Sambil berjalan mengelilingi kampung ini, ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian karena benda yang aku lihat ini terbuat dari anyaman bambu rapi dengan penopang batang bambu, dan ini ada di setiap berapa meter atau bahkan di depan masing masing rumah, ternyata benda itu adalah tempat sampah. Di sini menunjukkan bahwa warga di sini sangat memperhatikan kebersihan lingkungan, dan seperti kata bijak, di dalam lingkungan yang bersih akan ada jiwa dan raga yang sehat, bener nggak sih hehe…

Oiya, rombongan juga diajak untuk bertemu dengan bapak yang kalau di masyarakat kita disebut Ketua RT, yang mana ngurusin semua yang berhubungan dengan keperluan warganya. Di depan rumah dari bapak ini ada beberapa benda yang digunakan untuk keperluan sehari hari, yang dibuat secara tradisional oleh warga setempat. Sempat berbincang bincang dan berkenalan, terlihat keramahan dari Pak Maun saat menerima rombongan.
Tanpa terasa sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam di kampung naga, sambil menuju jalan balik aku melewati mesjid yang ada di tengah tengah kampung, dan di sini semakin terlihat kerukunan warga setempat 

Saat nya meninggalkan kampung naga, yang pasti tersisa memory bahwa di jaman modern seperti ini masih ada perkampungan yang bebas polusi dan keramahan antar warga masih sangat kental. waktunya untuk menaiki tangga alias tanjakan mesra, tapi jangan kuatir kalau ngerasa haus serta dahaga banyak warung yang menjual kelapa muda dan minuman dingin di dalam kulkas.
Tips dari Akoe :
  • Usahakan kalau ke Kampung Naga pada saat cuaca cerah alias tidak hujan, karena untuk menjelajah perkampungan ini tidak ada penutup alias semuanya terbuka.
  • Bawa sedikit uang untuk membeli souvenir atau kerajinan tangan dari masyarakat setempat, karena selain melakukankunjungan kita juga membantu kesejahteraan
  • Jangan mengotori lingkungan yang sudah dijaga bersih oleh masyarakat kampung ini, yaitu dengan membuang sampah pada tempat nya
Biayanya apa aja Gaes?
  • Tenang aja, tidak terlalu mahal. Aku ikut open trip dari HKR untuk tujuan Kampung Naga sekaligus camping di Gunung Galunggung biayanya Rp. 300.000,- sudah termasuk mobil, kemah, 2 kali makan, yaitu makan malam dan sarapan.
  • Biaya yang harus keluar pribadi adalah untuk makan pagi saat sampai di Kampung Naga, makan siang sebelum naik ke Gunung Galunggung dan makan siang saat sebelum balik ke Jakarta, kalau aku hitung gampangnya sekali makan habis Rp. 30.000,- tinggal dikali 3
  • Biaya lain nya adalah transportasi kalian dari rumah ke meeting point di Kampung Rambutan, nah ini terserah mau naik apa hehe…
Deep inside of my heart :
  • Seperti yang aku sampai kan di atas, dalam era modern yang seperti aku rasakan dengan tinggal di ibukota Jakarta, ternyata masih ada sebuah perkampungan yang asri dan bebas polusi, sehingga kadang kita perlu mencari waktu untuk berkunjung ke sini, untuk menghirup udara segar dan pikiran menjadi jernih.
  • Masyarakat yang sangat peduli akan kebersihan lingkungan nya, memberikan rasa salut tersendiri dan hal ini yang bisa aku rasakan bahwa sebagian manusia masih bisa bersahabat dengan alam.

SHARE
Previous articleDerawan, buat aku tetap menawan
Next articleGunung Galunggung, Tasikmalaya
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan selalu memberikan makna yang mendalam. Percaya atau tidak, datang ke destinasi yang sama sekalipun, kalian akan selalu mendapatkan cerita yang berbeda. Jadi jangan pernah merasa bosan untuk melakukan perjalanan, terus melangkah dan bagikan pengalaman kalian kepada orang lain, layak nya aku seorang KoperTraveler

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here